Menurut laporan terbaru dari organisasi pemantau media GLAAD, persentase film yang menyertakan karakter LGBTQ mengalami penurunan selama tiga tahun berturut-turut. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2023, representasi mencapai puncaknya dengan angka 28,5 persen. Angka tersebut kemudian menyusut menjadi 27,3 persen pada tahun berikutnya, dan merosot tajam hingga menyentuh angka 20,4 persen pada tahun 2025.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan analisis komprehensif terhadap 225 film yang dirilis sepanjang tahun 2025, tercatat sama sekali tidak ada karakter transgender yang ditampilkan dalam film bioskop maupun layanan streaming. Fenomena ini memicu kekhawatiran besar dari pihak aktivis media. Terlebih lagi, dari 19 film animasi keluarga yang diklasifikasikan untuk penonton anak-anak, keterwakilan karakter tersebut dilaporkan nihil.
Presiden dan CEO GLAAD, Sarah Kate Ellis menyatakan bahwa penonton sebenarnya tetap mencari cerita yang inklusif dan orisinal. "Studi kami menemukan bahwa kisah-kisah LGBTQ dalam film mampu meraih kesuksesan komersial dan kritis. Jika industri tidak memprioritaskan investasi ini, mereka berisiko kehilangan generasi muda yang akan mencari hiburan di tempat lain," ujar Ellis.
Meskipun terjadi penurunan secara umum, genre film horor independen seperti "I Know What You Did Last Summer" dan "Weapons" tercatat sebagai pengecualian yang sukses. Menurut data keuangan yang tersedia, setiap film horor yang menyertakan elemen inklusif berhasil meraup keuntungan lebih dari dua kali lipat dari anggaran produksinya. Studio independen kini menjadi penggerak utama dalam menjaga keterwakilan tersebut.
Di sisi lain, penurunan ini disambut positif oleh beberapa pengamat industri. Analis Riset Senior Newsbusters, Bill D'Agostino menilai fenomena ini sebagai kemenangan bagi penikmat seni. "Ini tanda positif bagi pencinta film. Artinya, semakin sedikit pembuat film yang merasa tertekan untuk memasukkan karakter tertentu hanya demi menyenangkan kelompok aktivis," kata D'Agostino saat memberikan keterangan.
Penurunan representasi di layar lebar ini berjalan selaras dengan hasil jajak pendapat publik terbaru dari Gallup di Amerika Serikat. Menurut survei tersebut, penerimaan moral terhadap hubungan sesama jenis merosot hingga ke angka 62 persen. Angka ini tercatat sebagai tingkat dukungan paling rendah yang pernah direkam sejak tahun 2016.