ANKARA - Lelaki itu berbicara di hadapan badai yang sedang tumbuh. Menurut Presiden Amerika Serikat Donald Trump, kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dengan Iran kini telah mati. Hari Rabu itu menjadi kelam ketika Teheran kembali meluncurkan serangan ke pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Perjanjian yang ditulis di atas kertas tidak lagi memiliki arti di hadapan dentuman meriam.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan militer, Iran menyerang situs militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Serangan itu adalah balasan setelah pasukan Amerika Serikat menghantam target-target Iran di Selat Hormuz. Gencatan senjata yang rapuh itu kini hancur. Harapan untuk mengubah nota kesepahaman menjadi perdamaian abadi telah musnah bersama asap ledakan.
Sebelum pertemuan puncak NATO di Turki, para wartawan bertanya kepada Trump apakah kesepakatan itu telah usai. Trump menjawab dengan lugas, "Bagi saya, saya pikir ini sudah berakhir. Saya tidak ingin berurusan dengan mereka." Kata-katanya singkat dan tajam, tipikal pria yang tidak ingin membuang waktu untuk sesuatu yang dianggapnya sia-sia.
Menurut data perdagangan, pasar dunia langsung berguncang setelah pernyataan itu. Harga minyak Brent melonjak lima persen menjadi 78 dolar per barel. Di laut yang bergolak, setidaknya empat kapal tanker minyak dan gas memilih berbalik arah. Mereka menolak melewati Selat Hormuz yang kini menjadi jalur maut.
Garda Revolusi Iran menyatakan mereka telah menembak jatuh sebuah drone MQ-9 milik Amerika Serikat. Sementara itu, Komando Sentral Amerika Serikat membalas dengan menghancurkan lebih dari 60 perahu kecil milik Iran. Amerika Serikat juga mencabut izin penjualan minyak Iran, sebuah pukulan telak yang membuat Teheran meradang. Perang ini kembali menemukan bentuknya yang paling murni: saling menghancurkan.