Vaksin kanker berbasis mRNA yang dikembangkan oleh Merck dan Moderna menunjukkan hasil menjanjikan dalam uji klinis untuk mencegah melanoma kambuh atau menyebar ke bagian tubuh lain. Berdasarkan laporan dari uji coba yang melibatkan ratusan pasien, kombinasi vaksin ini dengan obat imunoterapi Keytruda memberikan perlindungan lebih baik dibandingkan penggunaan Keytruda secara tunggal.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut penjelasan Dr. Michael Postow dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center, vaksin ini dirancang secara personal untuk setiap pasien berdasarkan profil unik tumor mereka. "Vaksin ini merupakan terapi kanker personalisasi di mana perawatan dibuat berdasarkan tumor pasien untuk meningkatkan respons imun agar tidak kembali setelah operasi," ujarnya.
Teknologi mRNA bekerja dengan cara menyampaikan instruksi kepada sistem kekebalan tubuh agar mengenali dan menyerang sel kanker yang memiliki karakteristik berbeda dari sel sehat. Pengamatan Redaksi mencatat bahwa pendekatan kustomisasi ini membuka peluang besar untuk diaplikasikan pada berbagai jenis tumor ganas lainnya di masa depan.
Meskipun menggunakan teknologi mRNA yang serupa dengan vaksin COVID-19, vaksin kanker ini bekerja dengan mekanisme yang sangat berbeda karena dibuat khusus bagi setiap individu. Dari analisis Redaksi, keamanan teknologi ini terbukti sangat baik dan tidak memengaruhi DNA manusia karena mRNA hancur setelah menyampaikan pesannya di dalam sel.
Perusahaan farmasi terkait berencana menyerahkan data uji klinis fase 3 kepada regulator kesehatan untuk mendapatkan izin edar resmi. Jika disetujui, vaksin inovatif ini diprioritaskan bagi pasien melanoma stadium lanjut yang telah menjalani prosedur pengangkatan tumor melalui pembedahan.