Lelaki itu berbicara dengan amarah yang tertahan. Di dalam studio televisi, Ian Wright menyaksikan bagaimana VAR telah mengubah jalannya sebuah pertandingan yang jujur. Babak gugur Piala Dunia selalu menyajikan drama yang keras, namun malam itu di lapangan, ketidakadilan terasa begitu nyata bagi Mesir.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan pertandingan, Mesir sempat memimpin lewat gol bek Yasser Ibrahim dan disusul gol kedua dari penyerang Mostafa Ziko pada menit ke-67. Argentina, sang juara bertahan, tampak hampir binasa. Namun mereka bangkit melalui gol Cristian Romero, Lionel Messi, dan gol penentu dari Enzo Fernandez pada menit ke-93.
Menurut Wright, gol kemenangan Argentina semestinya dianulir karena ada pelanggaran terhadap Mo Salah sebelum serangan itu terjadi. "Itulah yang terjadi dengan VAR sekarang, mereka menariknya kembali," kata Wright dengan nada sengit setelah peluit panjang berbunyi.
Wright menambahkan bahwa jika wasit bisa membatalkan gol Mesir karena pelanggaran tipis terhadap Tagliafico, hal serupa harus dilakukan untuk pelanggaran terhadap Mo Salah. Roy Keane sempat memotong dan mempertanyakan jatuhnya kaki Salah, namun Wright dengan cepat membungkamnya. "Lihat Roy, kita membicarakan hal itu. Ini benar-benar membuka Kotak Pandora," ujarnya.
Bukan hanya Wright yang merasakan kepedihan itu. Menurut penyerang Mesir Mostafa Ziko, turnamen ini terasa tidak jujur. "Wasit benar-benar tidak adil. Ketidakadilan itu jelas. Tampaknya turnamen ini telah diatur," ucap Ziko dengan hati yang getir setelah impian mereka dihancurkan oleh keputusan dari ruang siaran.
Kini Argentina melangkah ke perempat final untuk menghadapi Swiss di Stadion Kansas City. Mereka menang, namun menyisakan luka yang dalam bagi sepak bola Afrika dan sebuah perdebatan panjang tentang keadilan di atas rumput hijau yang tak akan pernah selesai.