Matahari telah tenggelam di Atlanta, Amerika Serikat, meninggalkan lapangan yang keras dan sisa-sisa pertempuran yang getir. Tim nasional Mesir sempat memimpin dua gol, sebuah keunggulan yang kokoh, sebelum segalanya runtuh dalam sebelas menit yang kejam di akhir laga. Argentina membalas tiga kali. Cristian Romero mencetak gol pertama, disusul tendangan setengah voli yang telak dari Lionel Messi, dan sundulan Enzo Fernandez di menit ke-92 menutup malam yang perih bagi orang-orang Afrika itu.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan jalannya pertandingan, kemarahan membakar bangku cadangan Mesir sebelum peluit panjang berbunyi. Mereka tidak bisa menerima gol Lionel Messi karena merasa ada pelanggaran yang mendahuluinya. Jauh sebelum itu, sebuah gol dari Mostafa Ziko sempat dianulir wasit, meski sang penyerang sayap akhirnya bisa mencetak gol sesungguhnya beberapa menit kemudian. Ketegangan itu nyata, pekat, dan tak tertahankan di tepi lapangan.
Menurut laporan pertandingan, manajer Mesir Hossam Hassan tidak bisa lagi menahan diri pada masa tenggang. Wasit Francois Letexier berjalan mendekat dan mengacungkan kartu kuning. Saat itulah Hassan menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf "X" di hadapan sang pengadil. Isyarat itu adalah tanda universal yang biasa digunakan untuk melaporkan pelecehan rasial di lapangan hijau, sebuah gerakan yang memicu perdebatan panjang.
Ibrahim Hassan, saudara kembar sekaligus sang asisten pelatih, segera bertindak menarik tangan saudaranya ke bawah, mencoba menenangkan badai yang sedang bergolak. Ibrahim mengacungkan ibu jari kepada Francois Letexier, sebuah tanda damai yang rapuh agar pertandingan tetap berjalan hingga detik terakhir. Namun, tanda silang itu sudah telanjur terekam oleh ribuan pasang mata.
Berdasarkan konferensi pers setelah pertandingan, Hossam Hassan tidak secara langsung menjelaskan maksud dari isyarat tangannya, namun ia memilih menyerang dengan kata-kata yang tajam. "Kami tidak melihat adanya rasa hormat atau permainan yang adil. Sebuah penalti dianulir, dan penalti kedua yang seharusnya diperiksa untuk kami bahkan tidak diperiksa oleh VAR," ujar Hassan seperti dikutip dari The Athletic.
Menurut lelaki tua yang melatih Mesir itu, ada tekanan besar dari pihak Argentina yang memengaruhi keputusan wasit asal Prancis tersebut. "Hidup ini tidak adil. Dunia ini tidak adil, baiklah. Tapi mengapa tidak ada keadilan dalam olahraga? Saya tidak yakin dengan hasil ini dan dengan cara segala sesuatunya berjalan dalam pertandingan ini," katanya dengan nada suara yang berat dan kecewa.
Hassan juga mengungkapkan bahwa pihak Mesir sebenarnya telah mengajukan keberatan atas penunjukan Francois Letexier sebelum laga dimulai. Ia merasa ada konspirasi besar yang ingin mempertahankan sang juara bertahan di turnamen ini agar Lionel Messi tetap bermain. "Mungkin mereka ingin mempertahankan juara dunia tetap berada di kompetisi. Mungkin mereka ingin Messi tetap bertahan," ucapnya menutup malam yang sunyi itu.