Pandangan umum mengenai perselingkuhan sering kali menempatkan pelakunya sebagai pihak yang sepenuhnya salah tanpa melihat akar permasalahan di dalam relasi tersebut. Sebuah pengalaman pribadi dari seorang penulis yang mendapati sahabatnya berselingkuh telah mengubah cara pandangnya terhadap kesetiaan dan dinamika rumah tangga yang toksik.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pengamatan Redaksi, stigma sosial selalu melabeli pelaku perselingkuhan sebagai sosok yang egois dan tidak bertanggung jawab, sebagaimana sering digambarkan dalam berbagai karya seni dan budaya pop. Namun, analisis Redaksi menunjukkan bahwa tidak semua kasus perselingkuhan lahir dari sekadar dorongan hawa nafsu atau sifat destruktif semata, melainkan ada tekanan psikologis mendalam yang kerap diabaikan.
Kisah bermula ketika seorang wanita bernama Kelly terjebak dalam pernikahan bersama seorang suami yang gemar melakukan gaslighting, merendahkan, hingga memasang sensor pengawas di setiap sudut rumah. Perlakuan tersebut secara perlahan mengikis kesehatan mental Kelly, membuatnya merasa tidak berharga, dan merusak kendali atas kehidupannya sendiri.
Ketika tekanan mental mencapai puncaknya, keputusan untuk berselingkuh justru diambil oleh Kelly bukan semata untuk mencari kesenangan, melainkan sebagai bentuk perlawanan dan cara untuk merebut kembali otonomi atas tubuhnya yang telah lama direnggut oleh sang suami. Berdasarkan catatan penelitian sosiologi, tindakan mencari validasi di luar nikah kerap menjadi respons psikologis terhadap kekuasaan dan kontrol abusif di dalam rumah tangga.
Pencarian mendalam melalui berbagai literatur dan kisah nyata memperkuat fakta bahwa sebagian besar wanita yang berselingkuh dalam situasi serupa melakukannya karena harga diri mereka telah dihancurkan oleh pasangan sendiri. Pada akhirnya, fenomena ini membuka ruang diskusi yang lebih luas bahwa tidak semua persoalan rumah tangga dapat diadili secara hitam putih tanpa memahami konteks kekerasan emosional yang menyertainya.