Ashton Reed memilih Donald Trump pada tahun 2024. Lelaki berumur dua puluh dua tahun dari Jackson, Missouri itu menginginkan ekonomi yang kuat untuk kotanya. Sekarang, dia kehilangan pekerjaannya di bidang HVAC dan harga-harga barang melonjak naik. Perang di Iran berkecamuk dan janji masa lalu tentang perdamaian kini terasa jauh.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan data jajak pendapat terbaru, dukungan untuk Trump mulai retak di kalangan pemilih kelas pekerja kulit putih dan warga pedesaan di Amerika Serikat. Mereka adalah fondasi politik yang kokoh bagi Trump selama satu dekade terakhir. Kini, fondasi itu bergoyang karena kecemasan ekonomi menjelang pemilihan paruh waktu Kongres.
Menurut jajak pendapat CBS News-YouGov pada bulan Mei, tingkat ketidakpuasan pemilih kulit putih tanpa gelar perguruan tinggi melonjak menjadi 54 persen. Angka ketidakpuasan ini meningkat tajam dibandingkan bulan Februari tahun lalu yang hanya mencapai 32 persen. Jajak pendapat dari Reuters/Ipsos juga menunjukkan tren penurunan serupa di wilayah pedesaan.
Di Hazard, Kentucky, seorang pria bernama Denver Feltner merasakan beban hidup yang sama beratnya. Dia bekerja dua pekerjaan untuk menghidupi lima anaknya yang masih kecil. Biaya belanjaannya membubung tinggi dan premi asuransi kesehatannya melonjak setelah subsidi berakhir. "Saya baik-baik saja pada masa jabatan pertamanya, tetapi sekarang sangat berbeda," katanya.
Kebijakan tarif dan ketegangan politik juga memicu tekanan ekonomi bagi para petani di pedesaan barat daya Minnesota. Bob Worth, seorang petani kedelai berusia 73 tahun, mengatakan biaya bahan bakar dan pupuk miliknya meroket akibat konflik di Iran. Aliran kas pertaniannya kini berada di zona merah, memaksa para petani muda menanggung utang lebih besar.
Menurut profesor ilmu politik dari Vanderbilt University, Noam Lupu, penurunan popularitas ini sangat signifikan karena kelompok pemilih ini sebelumnya sangat setia. Ketidakpuasan yang meluas ini mungkin tidak akan membuat mereka langsung memilih Partai Demokrat, tetapi berpotensi besar menurunkan tingkat partisipasi pemilih yang dapat merugikan kubu Republik.