Populisme telah mencapai tingkat yang luar biasa di kota pesisir Clacton-on-Sea, Inggris. Pemimpin partai oposisi sayap kanan Reform UK, Nigel Farage, kini harus menghadapi lawan yang tidak biasa dalam pemilihan sela parlemen bulan depan. Lawan tersebut adalah seorang komedian berpakaian tempat sampah yang dikenal dengan nama "Count Binface". Farage memutuskan mundur dari kursi parlemen demi memicu pemilihan sela ini, sebuah langkah yang diklaimnya untuk membiarkan rakyat menentukan masa depan politiknya.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan Fox News Digital, pengunduran diri Farage terjadi di tengah penyelidikan dewan standar pemerintah terkait hadiah senilai 5 juta Euro dari miliarder kripto Christopher Harborne pada tahun 2024. Farage membantah melakukan pelanggaran dan menyatakan dana tersebut digunakan untuk keamanan pribadinya. Menariknya, seluruh partai politik besar menolak mengirimkan kandidat untuk melawan Farage karena menganggap pemilihan sela ini hanyalah sebuah aksi politik belaka.
Menurut catatan politik Britania Raya, sosok di balik topeng Count Binface bukanlah orang baru. Karakter "prajurit luar angkasa independen" ini dimainkan oleh Jonathan David Harvey, seorang penulis komedi dan satiris asal Inggris. Harvey sebelumnya pernah memerankan karakter "Lord Buckethead" untuk melawan Perdana Menteri Theresa May pada pemilu tahun 2017 silam.
Dalam kampanye satir yang diusungnya, Count Binface membawa beberapa manifesto komedi yang tajam. Menurut dokumen kampanyenya, ia mengusulkan untuk memotong pajak warga dan menaikkan pajak orang lain, menghapus langganan daring otomatis, membangun setidaknya satu rumah terjangkau, hingga menasionalisasi penyanyi Adele. Di balik absurditas tersebut, aksi ini menjadi kritik pedas terhadap sistem politik Inggris yang dianggap membingungkan oleh masyarakat.
Kondisi politik di Britania Raya sendiri sedang mengalami masa pergolakan yang panjang. Negara ini telah berganti beberapa perdana menteri dalam waktu kurang dari satu dekade, termasuk Liz Truss yang hanya menjabat selama 50 hari. Baru-baru ini, Perdana Menteri Keir Starmer juga mengumumkan akan mundur menyusul hasil pemilu parlemen yang buruk, menambah ketidakpastian politik di negara tersebut.