Modus penipuan liburan semakin canggih seiring pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan yang mempermudah pelaku kejahatan memalsukan situs web resmi serta pesan meyakinkan. Menurut laporan survei McAfee, sekitar 38 persen wisatawan pernah mengalami percobaan penipuan saat merencanakan perjalanan mereka.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →"Kecerdasan buatan tidak hanya membuat penipuan semakin meyakinkan, tetapi juga mempermudah pemalsuan rasa percaya," ujar Chief Innovation Officer IdentityIQ, Michael Scheumack. Ia mengingatkan agar para pelancong tidak mudah percaya pada pesan profesional yang datang secara tiba-tiba tanpa verifikasi ulang.
Salah satu modus paling meresahkan melibatkan nomor layanan pelanggan palsu yang muncul di mesin pencari ketika tiket penerbangan mengalami penundaan atau pembatalan. Co-founder ImpersonAlly, Shlomi Beer menjelaskan bahwa korban sering kali terjebak karena mereka berinisiatif melakukan panggilan sendiri tanpa menaruh curiga sejak awal.
Selain layanan pelanggan palsu, wisatawan juga perlu mewaspadai situs pemesanan tiruan, phising kode QR, hingga pembajakan akun loyalitas maskapai dan hotel. Berdasarkan analisis Redaksi, penggunaan dompet digital serta kartu kredit dengan sistem verifikasi ganda dapat meminimalisir risiko kehilangan dana selama berlibur.