Angin dingin berembus di Minnesota, membawa kabar tentang keadilan yang berkompromi dengan batas negara. Seorang pria berumur 42 tahun, seorang imigran tanpa dokumen yang sah, telah dinyatakan bersalah atas tindakan keji memperkosa seorang anak perempuan secara berulang kali. Kini, dewan pengampunan yang dipimpin oleh Gubernur Tim Walz telah memberinya pengampunan penuh. Keputusan itu lahir dari meja komisi yang lebih mencemaskan nasib deportasi sang pria daripada luka masa lalu korban.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan dokumen dari Minnesota Clemency Review Commission yang ditinjau oleh Fox News Digital, komisi tersebut memberikan rekomendasi dengan suara 4-2 untuk mengampuni Tue Lue Vang. Pria berkebangsaan Laos itu mengakui perbuatannya, merenggut kesucian seorang anak perempuan selama bertahun-tahun yang dimulai sejak korban berusia sepuluh tahun. Empat anggota komisi memilih untuk berbelas kasih, menuliskan kecemasan mereka jika pria itu harus dikirim kembali ke tanah kelahirannya.
Menurut salah satu anggota komisi, Zach Linstrom, keputusan ini tidaklah mudah namun harus diambil demi keluarga. "Kasus yang sangat sulit, tetapi anak-anak yang tumbuh tanpa seorang ayah bukanlah hal yang baik bagi masyarakat," tulis Zach Linstrom dalam rekomendasinya, merujuk pada enam anak yang dimiliki oleh Tue Lue Vang. Anggota komisi lainnya, Artika Roller, menuliskan hal senada bahwa pemohon membutuhkan grasi ini karena masalah keimigrasian yang mengancam keberadaannya di Amerika Serikat.
Rekomendasi itu berjalan mulus ke tingkat atas. Minnesota Board of Pardons, yang beranggotakan Gubernur Tim Walz, Jaksa Agung Negara Bagian Keith Ellison, dan Ketua Mahkamah Agung Minnesota Natalie Hudson, akhirnya mengetuk palu pengampunan penuh pada 10 Juni. Pengampunan ini menghapus catatan hitam Tue Lue Vang, tepat ketika bayang-bayang deportasi dari otoritas federal sudah berada di depan matanya.
Reaksi keras datang dari Washington. Menurut Plt Asisten Sekretaris Keamanan Dalam Negeri Lauren Bis, keputusan yang diambil oleh dewan pimpinan Gubernur Tim Walz adalah hal yang menjijikkan. "Keputusan Gubernur Tim Walz untuk mengampuni seorang warga asing ilegal yang terbukti memerkosa anak agar dia bisa tetap tinggal di negara kita adalah hal yang menjijikkan. Inilah kriminal asing ilegal yang dilindungi olehnya dan para politikus suaka di Minnesota," ujar Lauren Bis dengan nada tajam.
Luka lama itu bermula di St. Paul, Minnesota, wilayah Ramsey County. Tue Lue Vang yang masuk ke Amerika Serikat melalui California pada tahun 1994, memanfaatkan kelengangan hukum saat hubungan intim paksa itu terjadi empat hingga enam kali antara tahun 2002 dan 2004. Saat itu korban masih sangat belia, duduk di bangku sekolah dasar kelas empat, dan tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Tue Lue Vang kepadanya hingga dia membiarkannya terjadi.
Jaksa Penolong Ramsey County, Tami McConkey, berdiri tegak menentang pengampunan tersebut. Dalam pernyataan resminya, Tami McConkey mengingatkan bahwa Tue Lue Vang pernah dijatuhi hukuman 12 tahun penjara, namun hukuman itu ditangguhkan demi masa percobaan 30 tahun dan hanya menjalani penahanan lokal selama delapan bulan. Menurut Tami McConkey, Tue Lue Vang tidak pernah menunjukkan penyesalan yang tulus terhadap penderitaan yang dialami korban, melainkan hanya meratapi nasib anak-anaknya sendiri.
Namun, beberapa anggota komisi bertahan pada argumen bahwa korban sendiri telah memaafkan dan mendukung pengampunan tersebut. Komisaris Nadine Graves menuliskan bahwa istri Tue Lue Vang telah memaafkan suaminya, dan sang pelaku telah menarik pernyataan lamanya yang menyebut bahwa menyetubuhi anak di bawah umur adalah bagian dari budaya di Thailand. Penyesalan itu dianggap cukup oleh komisi untuk membersihkan namanya.
Ketakutan Tue Lue Vang akan masa depan yang hampa di Laos akhirnya runtuh oleh ketegasan dari pusat. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengumumkan bahwa pemerintah federal telah bertindak cepat untuk membatalkan status hukum Tue Lue Vang di Amerika Serikat dan mengirimnya kembali ke Laos. "Rakyat Amerika tidak boleh hidup dalam ketakutan terhadap predator seksual asing yang dilindungi dari deportasi oleh pejabat pilihan mereka sendiri," tegas Marco Rubio.