Ekonomi Tiongkok menghadapi lanskap yang timpang pada bulan Juni 2026. Berdasarkan data resmi dari National Bureau of Statistics yang dirilis hari Kamis, harga konsumen tumbuh lebih lambat dari perkiraan, sementara inflasi grosir justru melesat cepat. Tingginya biaya energi yang berkepanjangan dituding menjadi penyebab utama yang mengikis daya beli masyarakat di dalam negeri.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut laporan otoritas statistik tersebut, indeks harga konsumen atau CPI meningkat sebesar 1 persen pada Juni dari tahun lalu. Angka ini meleset dari perkiraan para ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memproyeksikan pertumbuhan 1,1 persen. Pencapaian ini juga menandai perlambatan jika dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 1,2 persen pada bulan Mei lalu.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak menghitung harga pangan dan energi yang fluktuatif turut meningkat 1 persen secara tahunan. Angka ini sedikit turun dari kenaikan 1,1 persen pada Mei. Di sektor pangan, harga-harga komoditas mengalami penurunan sebesar 1,6 persen dari tahun sebelumnya, sedikit membaik dari penurunan 1,7 persen yang terjadi pada bulan Mei.
Berdasarkan data LSEG, indeks harga produsen atau PPI melonjak sebesar 4,1 persen dari tahun sebelumnya. Angka tersebut sesuai dengan perkiraan para ekonom dan melampaui pertumbuhan bulan Mei yang berada di angka 3,9 persen. Lonjakan ini menandai pertumbuhan terkuat sejak Juli 2022, meskipun secara bulanan PPI mencatat penurunan sebesar 0,3 persen.
Menurut Tianchen Xu, ekonom senior di Economist Intelligence Unit, harga minyak saat ini berada dalam jalur penurunan yang akan menahan PPI untuk tidak melonjak lebih tinggi lagi. Kenaikan tahunan yang kuat ini dinilai lebih karena efek basis yang rendah pada tahun lalu. "Pabrik-pabrik tidak dapat sepenuhnya melimpahkan kenaikan biaya modal kepada klien hilir mereka," kata Xu, yang menegaskan masih lemahnya permintaan domestik.
Berdasarkan catatan sejarah ekonomi baru-baru ini, harga produsen Tiongkok sempat mencatat penurunan terburuk dalam hampir dua tahun pada Juni tahun lalu dengan merosot 3,6 persen. Hal itu dipicu oleh perang harga yang mendalam di seluruh sektor ekonomi. Namun, sektor ini kembali tumbuh pada Maret lalu seiring meningkatnya biaya input akibat konflik di Timur Tengah.
Menurut Neo Wang, pakar strategi Tiongkok di Evercore ISI, banyak investor kini melihat pertumbuhan dua kecepatan ini sebagai fitur jangka panjang yang melekat pada ekonomi Tiongkok. Karakteristik ini ditandai oleh ekspor yang sangat kuat di satu sisi, namun kontras dengan konsumsi domestik serta pasar perumahan yang tetap lesu hingga saat ini.