Boikot Negara Barat dan Kehadiran Puluhan Delegasi Internasional
Peti jenazah Ayatollah Ali Khamenei yang diselimuti bendera nasional mulai disemayamkan di kompleks keagamaan Grand Mosalla, Teheran. Prosesi ini menandai dimulainya penghormatan terakhir bagi pemimpin yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dekade tersebut. Upacara akbar ini sempat tertunda selama empat bulan sejak sang pemimpin berusia 86 tahun itu tewas bersama beberapa anggota keluarganya akibat serangan udara dalam konfrontasi militer dengan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersama Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf tampak hadir memimpin penghormatan dari pihak internal pemerintahan. Selain tokoh domestik, kepala Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ahmad Vahidi, juga muncul di publik untuk pertama kalinya sejak perang pecah. Pihak berwenang memperkirakan jutaan warga akan memadati jalanan, menyerupai momentum pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada tahun 1989 silam yang dihadiri sekitar 10 juta orang.
Read Also
Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa lebih dari 50 delegasi asing telah tiba di Teheran, termasuk Presiden Irak, Tajikistan, Turkmenistan, Georgia, serta Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Menariknya, pemerintah Iran secara sengaja tidak mengundang negara-negara Eropa atau pihak yang dianggap mendukung agresi militer AS dan Israel. Langkah ini menegaskan sikap politik Teheran yang hanya membuka pintu bagi negara-negara sahabat dan netral dalam momentum berkabung nasional ini.
Setelah penghormatan di ibu kota, iring-iringan jenazah dijadwalkan melintasi sejumlah kota suci lintas negara, mulai dari Qom di Iran hingga Najaf dan Karbala di Irak sebagai pusat spiritual Syiah. Rangkaian ritual penghormatan terakhir ini nantinya akan berakhir di kota kelahiran Khamenei, Mashhad. Pengamat politik menilai mobilisasi massa skala besar ini sengaja diproyeksikan sebagai simbol persatuan nasional guna mengirimkan pesan ketahanan politik kepada pihak Barat.